Cari

pandoosite

Keep Dreaming

Ma Odah, Pejuang Kehidupan

IMG_2796

Pukul 6 pagi, bunyi percikan minyak di atas wajan seakan bersahutan dengan nyanyian burung pipit yang terbang dari pohon ke pohon. Dari arah koridor terlihat mahasiswa berlari kecil, dan melambat saat menaiki tangga. Di tengah lalu lalang mahasiswa, telah berjejer rapi belasan gorengan panas di atas nampan.

 

Saat itu Ma Odah tersenyum simpul, mungkin dia heran kenapa ada mahasiswa kuliah sepagi itu, atau mungkin dia senang karena sudah ada mahasiswa yang datang untuk membeli dagangannya. Ma Odah menyambut hangat setiap pelanggannya. Ada yang datang hanya untuk sekedar sarapan, bahkan ada juga yang datang untuk berbincang-bincang hingga matahari meninggi.

 

Beragam ekspresi yang muncul dari setiap mahasiswa yang  datang ke lapak dagangan Ma Odah. Kadang mereka datang dengan wajah cerah diiringi tawa canda bersama kawannya. Ada juga yang detang dengan wajah lesu dan kantung mata yang berkantung menghiasi dibawah mata yang memerah. Tetapi semua itu seakan hilang saat mereka berjumpa dengan belasan gorengan dengan aroma khasnya.

 

Satu persatu tangan mahasiswa mengambil gorengan yang duduk manis di atas nampan berwarna  hijau. Tak memperdulikan noda minyak yang menempel, jari jemari mahasiswa yang lihai seakan memang bekerjasama dengan perut yang keroncongan. Ditemani kopi hitam yang diseruput perlahan, terasa semakin betah sarapan sambil berbincang di lapak dagangan Ma Odah.

 

Ma Odah sudah dikenal baik oleh banyak mahasiswa UIN Bandung, khususnya yang berkuliah diantara gedung Ushuludin dan Dakwah. Dia berjualan gorengan sejak tahun 1972 hingga sekarang. Dari pukul 6 pagi hingga pukul 4 sore Ma Odah menjadi pereda rasa lapar mahasiswa.

 

Semakin hari sang surya mulai meninggi, hingga berada di atas kepala. Tetapi tetap saja tak mampu menurunkan sinarnya melewati bayangan gedung kuliah bertingkat yang menjulang. Hanya melalui celah dedaunan sinarnya dapat menerobos masuk, bagai sinar laser yang ditembakan dari langit, dan mendaratkan diri diantara tangga-tangga yang berundak.

 

Di tengah lalu lalang mahasiswa, dosen, dan semut hitam yang memunguti remah gorengan yang berjatuhan. Tangan Ma Odah dengan terampil memainkan spatula, mengatur posisi agar gorengan tidak menempel satu sama lain. Sambil sesekali mengusap keringat di pelipisnya, Ma Odah kembali membalikan gorengan dalam wajan, hingga matang keemasan.

 

Saat rasa lapar sudah tak menggerogoti perut mahasiswa, mereka pun pergi, dan tinggal Ma Odah sendiri menjaga lapaknya. Di tengah kesendiriannya, terkadang Ma Odah menatap kosong. Sesekali melemparkan senyuman pada orang yang lewat. Kemudian memperhatihan dedaunan yang jatuh. Setelah itu kembali dengan pandangan yang kosong. Mungkin ada hal yang dipikirkannya.

 

Sudah 45 tahun Ma Odah berjualan gorengan. Dagangan yang dia jual pun bukan milik pribadi, melainkan milik warung sekitar rumahnya yang menjanjikan akan dibayar jika dagangannya terjual habis. Tetapi sejak tahun 1989 setelah suaminya meninggal, Ma Odah harus berjuang menafkahi dirinya sendiri. Dengan usia yang sudah lanjut Ma Odah melakukan aktivitas rumah tangga seperti mencuci pakaian, membersihkan rumah dan kegiatan lainnya sendiri.

 

Selain gorengan Ma Odah juga menjual kopi dan rokok untuk menambah penghasilan. Dari hasil dagangannya, penghasilan yang didapat berkisar antara 15 ribu hingga 20 ribu tiap harinya. Dari pendapatannya itu harus ia sisihkan sebagian untuk membayar uang kontrakan yang ditempatinya sendirian di belakang kampus UIN Bandung dengan harga 50 ribu/bulan.

 

Terdengar lantunan adzan ashar dari Masjid Ikomah, kemudian disusul dengan saling bersahutan dari masjid lainyya. Hal tersebut merupakan pertanda baik bagi Ma Odah, karena menandakan beberapa saat lagi akan banyak mahasiswa yang datang untuk mengisi perutnya. Dan benar saja, tiga orang mahasiswa tersenyum menyapa, kemudian duduk bersantai sambil mata memilih gorengan yang akan dibeli. Setelah itu disusul rombongan lain mahasiswa yang datang, dan silih berganti.

Sore hari telah tiba, dan tiba waktunya Ma Odah untuk pulang. Sambil menunggu mahasiswa terakhir menyelesaikan makannya, Ma Odah merapikan lapak dagangannya. Tak lama setelah itu, Ma Odah beranjak pergi sambil membawa nampan dan tempat adonan gorengan yang sudah habis.

 

Angin sore bersemilir menerpa Ma Odah dalam perjalan pulangnya. Matahari pun sebentar lagi tertidur di ufuk barat. Membuat langit menunjukan wajahnya yang indah. Dengan lembayung jingga menguasai angkasa, seakan mengantarkan Ma Odah kembali menuju rumah untuk beristirahat.

 

Disela kesehariannya, Ma Odah terkadang mengeluh dengan sakit yang dideritanya. Badannya kerap kali terasa sakit saat berjalan, hingga tidak bisa berdiri tegak. Oleh karena itu Ma Odah melakukan check up  setiap minggu satu kali untuk memeriksa kesehatannya.

 

Dengan kondisi kesehatan Ma Odah yang kurang baik, ditambah banyak kebutuhan yang harus dipenuhi. Hingga saat ini Ma Odah tetap berjualan gorengan. Karena dengan gorengan kebutuhan itu dapat terbantu dan terpenuhi. Dengan gorengan pula Ma Odah bisa bertahan. Bertahan untuk menyambung kehidupan.

Aku Seorang Pelukis

Aku seorang pelukis

Aku bisa menghentikan waktu

Ya.. lukisanku menghentikan waktu

 

Hati-hati dengan pelukis

Dirimu bisa ada dalam lukisannya

 

Aku seorang pelukis

Aku punya pedang

Aku punya perisai

 

Kadang perisaiku hilang

dan pedangku menancap didadaku

Ya.. inilah aku

Aku seorang pelukis

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑